adpolkiyu74sd 02/03/2021

www.bluegrass-museum.orgMakanan Ekstrim ini Bisa Buat Anda Kehilangan Nafsu Makan. Jika Anda mengunjungi tempat tertentu, selain budaya, pemandangan alam, dan berbagai fasilitas rekreasi, Anda pasti akan menemukan makanan khas setempat.

Layaknya anak kembar, perjalanan terkait erat dengan kondisi memasak. Jika Anda berkunjung ke suatu tempat, selain budaya, pemandangan alam dan berbagai sarana rekreasi, tentunya Anda juga akan mencari makanan khas setempat, karena memasak adalah bagian dari makanan khas setempat, dan ciri khas daerah menjadi salah satu makanan khas tersebut.

Di berbagai daerah dan negara, berbagai jenis produk masakan juga sangat beragam. Ini benar-benar bumbu yang luar biasa dan ciptaan manusia yang luar biasa, yang mengejutkan saya adalah jika Indonesia terkenal dengan rasa pedas, asin, dan rempah-rempah yang kuat di semua negara / daerah, Jepang pasti punya sushi dan kesegarannya. Salmon sebagai signature toppingnya, the large bongkahan domba asal Uni Emirat Arab yang di atasnya diberi roti dan ditaburi hummus, bahkan lahir di Italia, sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia.

Namun, tidak semua makanan memiliki rasa yang unik.Beberapa orang juga berpendapat bahwa beberapa makanan lezat itu ekstrim, misalnya makanan yang terbuat dari bahan yang tidak biasa, seperti ulat bulu, kelelawar, tokek, dll.

Di berbagai daerah di Indonesia saya sering menemukan hidangan yang bahkan tidak menggugah selera makan, berikut beberapa kuliner ekstrim yang saya temukan di beberapa daerah di Indonesia.

  1. Botok Tawon

Botok Tawon merupakan panganan khas dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Tawon botok biasanya berisi sarang tawon (lebah) dan tawon muda yang masih menempel, serta diolah dengan bumbu tertentu.

Seperti olahan botok lainnya, Botok Tawon juga menggunakan pembungkus daun pisang yang sudah dimasak.

Botok tawon memiliki rasa yang asam, manis, asin, pedas dan asin.

Botok tawon biasanya dimakan saat sudah hangat agar rasanya tetap jernih.

Baca Juga: 25 Tempat Makan Paling Recommended di Sidoarjo

Disamping disebut Botok Tawon, disebut juga Pepes Tawon.

Botok Tawon termasuk makanan khas dari Banyuwangi, akan tetapi mampu juga dijumpai di Jawa Timur.

Bu Misnah termasuk salah satu lokasi masak Tawon Batok paling tua yang termasuk warga Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

Bu Misnah mengaku memperoleh resep Botok Tawon dari ayahnya yang telah berjualan produk tersebut semenjak 1981.

Warung Bu Misnah lazimnya melepas seporsi Botok Tawon dengan banderol antara Rp5. 000 sampai Rp19. 000, bergantung lauk yang dipilih.

  1. Rempeyek Laron

Laron merupakan serangga kecil yang biasanya muncul setelah hujan. Hewan tersebut dianggap mengganggu karena seseorang merasa mual dan geli saat disentuh ngengat. Nah, unik di Yogyakarta, Wonogiri dan daerah lain di Jawa Tengah, ngengat dijadikan lauk, yaitu Lempuyak Laren.

Rempeyek laron sebenarnya sangat terkenal. Hidangan ini sudah banyak dijual di pasaran sebagai oleh-oleh. Apalagi harganya cukup terjangkau dan bergizi. Laron mengandung hingga 65% protein, asam amino lengkap, vitamin B, asam letlet, asam linoleat dan 31% lemak.

Renyah kacang Laren tidak berbeda dengan renyah kacang tanah biasa. Baru saja mengganti buncis dengan ngengat. Soal rasa bisa dikatakan enak, kalau sudah digoreng tidak bertekstur lembek seperti ngengat. Namun, untuk situasi yang tidak biasa, Anda mungkin menganggapnya lucu dan tidak tahan dengan bau amis.

  1. Ulat Sagu

Masyarakat Papua memiliki hidangan tradisional yang sangat “mengerikan”, yaitu sate ulat. Masyarakat setempat biasanya menyebut kelezatannya sebagai “Koo” yang populer di kalangan masyarakat di daerah tersebut. Saat ini juga mudah mendapatkan ulat sagu karena sudah banyak dijual di pasaran.

Cacing sagu sendiri berasal dari pohon sagu yang dipotong kecil-kecil kemudian dibusuk. Nah, mereka akan membelah batangnya terlebih dahulu untuk mendapatkan ulat sagu. Bentuknya sangat lucu karena berwarna putih dan gemuk. Tapi bagaimana jika saya memakannya?

Biasanya masyarakat Papua memakan ulat sagu mentah. Namun ulat ini bisa ditumis dengan berbagai bumbu seperti biasa, atau digoreng atau dijadikan sate. Perlu Anda ketahui bahwa meski terlihat menjijikkan, cacing sagu memiliki kandungan protein yang tinggi. Orang Papua terkadang menggunakannya untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

  1. Sate Biawak

Jenis sate berbahan dasar daging reptil ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Anda, Pasalnya sudah banyak penjual kuliner yang menjual sate jenis ini di banyak tempat di kota-kota besar. Awalnya sate cicak ini hanya populer di Indonesia bagian timur, namun seiring bertambahnya permintaan, konon daging cicak ini dapat menyembuhkan gatal-gatal pada kulit.

Sebagian orang mungkin penasaran dengan rasanya, dan mungkin sebagian orang memanfaatkannya untuk mengobati gatal-gatal. Nah buat yang berdomisili di Jakarta tidak perlu bingung, karena restoran King Cobra terletak di Kapten Tendean-Jamp Kapten Tendean di selatan Jakarta. Tidak hanya sate kadal saja, tapi juga aneka makanan dari reptil seperti ular kobra dan jenis ular lainnya. bunga?

  1. Tokek Goreng

Tokek mungkin merupakan salah satu hewan yang telah lama dijadikan makanan ekstrim.Meski belum ada penelitian farmakologis yang menunjukkan bahwa tokek dapat menyembuhkan gatal-gatal pada kulit dan asma, masyarakat masih mencari kelezatan yang dapat dimakan ini untuk tujuan pengobatan. Di kawasan Lokasari Mangga Besar, Jakarta, terdapat sebuah rumah makan sederhana yang menjual kelezatan tokek ini. Saya pernah ke toko ini ketika saya ingin mengajak teman saya Raka untuk mencicipi menu tokek goreng. Sejak dulu, dia menyukai semua jenis masakan ekstrim.

Kali ini saya sangat penasaran untuk datang ke toko semacam itu.Meski agak mual, saya merasa mual karena mencium bau ikan dimana-mana.Setidaknya rasa penasaran saya bisa terpuaskan dengan melihat langsung proses pengolahannya yaitu melepas tokek. Kulit dulu, bagian dalamnya dikeluarkan, lalu dicuci bersih, dan siap diolah dengan cara diolesi bumbu terlebih dahulu.

  1. Ular Cobra

Kobra adalah hewan yang menakutkan dan mematikan. Namun bagi sebagian orang, hewan ini sepertinya bisa mengatasi penyakit. Inilah alasan mengapa darah kobra masih populer di pasaran. Selain dikonsumsi darah dan empedu, daging ular juga diolah menjadi sate dan sop.

Untuk mengambil darah, ular pertama-tama akan dipenggal kepalanya. Kemudian darah langsung mengalir dari tubuh ular. Manfaat mengkonsumsi darah dan empedu ular sangat banyak dan beragam. Mulailah dengan mengatasi penyakit kulit seperti jerawat, menyembuhkan kencing manis, darah tinggi, hepatitis, dll.

  1. Tikus Asap

Makanan semacam ini adalah makanan yang sangat tidak biasa, saya bisa membayangkan seekor tikus yang pernah hidup di selokan dan memakan sisa-sisa dari tempat pembuangan sampah. Sekarang hewan ini telah dimakan oleh manusia. Bayangkan saja itu menakutkan, tetapi mungkin ide ini tidak cocok untuk penggemar memasak Anda yang ekstrim. Di Thailand, makanan yang terbuat dari daging tikus sangat umum dijumpai.

Di Indonesia tikus juga diolah menjadi campuran bahan makanan, seperti bakso tikus. Namun, di Indonesia, pengolahan tikus seringkali ilegal.

Jika Anda tinggal di wilayah Jabodetabek, Anda mungkin sering mendengar rumor tentang penggunaan daging tikus oleh pedagang “nakal”. Evril, teman luar negeri asal Manado, mengatakan di Jakarta daging tikus diolah secara ilegal menjadi makanan, sedangkan pengolahan daging tikus di Manado soal lain.

  1. Tongseng Kelelawar

Yogyakarta memiliki banyak daya tarik. Selain suasana kotanya yang damai dan tentram, kota ini juga memiliki banyak obyek wisata baik itu wisata alam, wisata edukasi, wisata budaya maupun wisata belanja. Namun nyatanya masih banyak hal menarik lainnya di Yogyakarta. Contohnya, di kota ini terdapat beberapa restoran yang menawarkan menu-menu unik. Saking uniknya, banyak orang yang menyebut menu-menu tersebut sebagai menu ekstrem. Contoh menu unik yang bisa dinikmati saat berkunjung ke Yogyakarta adalah Tongseng Kelelawar. Tentunya berdasarkan namanya saja, kita semua sudah bisa menebak jenis makanan apa itu. Ya, kelelawar tongseng terbuat dari daging kelelawar yang merupakan makanan hewan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Tongseng Kelelawar merupakan menu yang unik, dan banyak yang menganggapnya sebagai menu ekstrim yang bisa dinikmati saat kita berkunjung ke Yogyakarta. Tapi tolong jangan salah sangka, menu ini bukan menu yang terkenal. Kalau kita coba tanya orang di Yogyakarta, mungkin mereka belum pernah dengar. Tapi kelelawar biarawan memang ada. Untuk menyantap makanan ekstrim ini, kita bisa mengunjungi toko Romiyati di Jl. Bantul Km 5,5 Yogyakarta. Lokasi toko ini tidak terlalu jauh dari pusat kota Yogyakarta. Toko ini menjual berbagai menu ekstrim dan buka setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 22.00.

  1. Rujak Cingur

Rujak cingur merupakan salah satu makanan tradisional yang banyak ditemukan di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Dalam bahasa Jawa, cingur berarti “mulut”, yaitu daging sapi yang diiris tipis dari mulut atau moncongnya, yang direbus dan dicampur menjadi masakan. Rujak cingur biasanya dibuat dari beberapa irisan buah-buahan, seperti ketimun, kerahi (krai, ketimun khas Jawa Timur), ubi, mangga muda, nanas, kedondong, lalu ditambahkan lontong, tahu, tempe, bendoyo, cengkeh dan sayur mayur seperti tauge, tauge, kangkung dan kacang panjang. Semua bahan dicampur dengan kuah atau bumbu yang diolah dari terasi, diencerkan sedikit dengan air mendidih, gula merah / gula pasir, cabai, kacang tanah goreng, bawang goreng, garam dan pisang hijau encer (pisang klutuk). ). Semua bumbu / bumbu dibuat dengan cara dihancurkan dan diaduk, itulah mengapa rujak cingur biasa disebut juga rujak ulek.

Rujak cingur terbagi menjadi dua jenis dalam penyajiannya, yaitu penyajian “biasa” dan “matengan” (mengacu pada huruf e dalam matengan ibarat mengungkapkan huruf e dengan kata: suka / sebutan / bendoyo). Bentuk biasa atau umum terdiri dari semua bahan di atas, sedangkan matengan (jawa matang) hanya terdiri dari bahan masak lontong, tahu goreng, kacang goreng eh, bendoyo (karahi rebus) dan sayur masak (Carl, kacang panjang) , tauge). Tidak ada bahan “mentah” yaitu buah, karena pada dasarnya sebagian orang tidak menyukai buah. Keduanya menggunakan bumbu atau bumbu yang sama.

Makanan ini disebut rujak cingur karena olahan bumbu yang digunakan adalah terasi dan irisan cingur. Hal inilah yang membedakannya dengan makanan rujak pada umumnya yang biasanya tidak menggunakan cengkeh. Rujak cingur biasanya digunakan bersama biskuit lain dan alas atau piring pincuk (daun pisang).

  1. Lawar Bali

Orang Bali tidak akan pernah asing dengan makanan khas ini. Lawar adalah makanan khas Bali, biasanya dibuat dalam upacara adat dan keagamaan. Perpaduan sayur dan daging ini memiliki rasa yang enak, dan jika dicoba pasti ketagihan.

Tradisi ngelawar (pengacara) telah diwariskan secara turun-temurun di kalangan masyarakat Bali, dan jenis makanan ini dikenal luas di Indonesia. Pengacara tidak hanya dapat ditemukan pada upacara tersebut, tetapi juga di berbagai pasar dan warung makan di Bali.

Baca Juga: Alur Cerita Game Resident Evil 4

Di balik kelezatan dan rasa asinnya, ada beberapa fakta menarik seputar lawar yang perlu Anda ketahui.

Bumbu

Rasa lawar enak dan enak. Hal ini dikarenakan lawar memiliki campuran bumbu yang lengkap (disebut basic kip dalam bahasa Bali) dan butuh waktu lama untuk mencampurnya.

Mulailah dengan bumbu dasar seperti bawang merah, cabai putih, dan cabai rawit, iris tipis dan goreng hingga matang. Selain itu, ada beberapa bumbu halus, istilah “Balinya kesuna Cekuh” yang merupakan campuran dari bumbu dasar, umbi-umbian, merica dan kacang tanah, kemudian dihaluskan dan digoreng.

Bumbu tambahan lainnya termasuk terasi yang dihancurkan dan digoreng, gula merah, bumbu, garam, jeruk nipis, dll. Jangan biarkan bumbu gosong saat menggoreng. Karena itu akan mempengaruhi cita rasa Farrar.

Tidak Di Olah

Beberapa orang yang belum mengenal lawar pasti tidak ingin mencoba makanan yang satu ini. Wajar saja karena proses pembuatan Faral tidak dimasak, tidak jadi soal digoreng, direbus atau dikukus.

Potong kacang panjang, pisang, nangka kecil, kelapa, ayam, sapi, babi, bebek, sapi dan bahan lainnya kecil-kecil, lalu campur bahan daging dan sayur dengan bumbu, lalu aduk dengan daging telanjang. tangan.

Setelah itu, lawar pun siap dinikmati. Tapi jangan khawatir. Padahal, daging dan sayur sudah dimasak sebelumnya. Oleh karena itu, tidak menimbulkan rasa sakit saat dikonsumsi.

Pakai Darah Hewan

Nah, hal inilah yang menyebabkan sebagian orang takut mencicipi cita rasa Perancis, dan sebagian orang mungkin merasakan makanan ini sebagai makanan yang ekstrim. Hal ini dikarenakan mage berwajah merah menggunakan darah dari ayam, babi, sapi atau hewan lain tergantung jenis daging yang digunakan.

Darah hewan ini bahkan tidak dimasak, tetapi langsung dicampur dalam campuran legal. Bagi yang belum mengenal hukum, menikmati hukum semacam ini tentunya menjadi tantangan kuliner. Namun hal tersebut biasa terjadi pada masyarakat Bali.

Oleh karena itu, jika tidak ingin memakannya, Anda dapat mencicipi Faral tanpa tercampur dengan darah. Laval, yang biasanya tidak berwarna merah, tidak memiliki campuran darah.

Tidak Dapat Bertahan Lama

Lawar adalah makanan lezat yang hanya bertahan tidak lebih dari sehari. Lara setelah seharian biasanya asam dan tidak layak untuk dikonsumsi. Karena itu, jika Anda membuat pengacara, biasanya Anda akan langsung mengkonsumsinya tidak lebih dari sehari.

Jika ingin mengonsumsinya lebih dari sehari, Anda bisa membungkusnya dengan daun pisang. Setelah itu kukus hingga mendidih dengan daun pisang hingga berwarna kecokelatan. Bagaimanapun, memasak harus selalu dilakukan untuk menjaga keadaan memasak. Selain itu, bisa juga diletakkan di lemari es.

Digunakan Juga Sebagai Sesajen

Di Bali, lahar tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga digunakan sebagai persembahan dalam setiap upacara keagamaan. Karenanya, upacara keagamaan wajib diadakan setiap saat, begitu juga dengan perayaan adat ngelawar. Laura adalah semacam rasa syukur kepada Tuhan atas kekayaan alam yang melimpah.

Pasalnya, lawar sebagai salah satu bentuk kekayaan alam memiliki satu kesatuan dengan flora dan fauna.

Inilah fakta menarik tentang Laval. Sudah saatnya kita melestarikan Lawar sebagai warisan kuliner Indonesia.

  1. Olahan Anjing

Solo terkenal dengan kenikmatan memasaknya yang unik. Tapi diam-diam, ada juga daging anjing yang lezat di daerah tersebut. Ini sejarah.

Masakan ekstrem ini sudah ada sejak 1940-an. Sejak saat itu, daging anjing telah diperdagangkan secara publik.

Menurut penelusurannya, pada zaman dahulu, jebakan anjing masih sering kita jumpai. Mereka membawa cambuk kayu panjang dan cara (jebakan) dengan kait atau jaring kulit untuk melingkari leher anjing.

Bisnis ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengatakan, keberlangsungan bisnis karena segmentasi yang jelas.

Dia berkata: “ Sebuah makanan dapat bertahan selama berabad-abad karena konsumen mengetahuinya dengan baik dan diteruskan kepada anak dan cucu mereka. Padahal dog food jenis ini didukung oleh masyarakat Anbang dan non muslim, ” ucapnya.

Hingga sekitar tahun 1990an, masih banyak pedagang yang menjual daging anjing goreng atau nasi campur di desa-desa sekitar. Kemudian mulai bermunculan warung-warung makan anjing dengan kedok “sate jamu”.

Mereka kini dijual ke publik dengan nama “sate guguk” setelah menimbulkan protes publik karena dianggap menipu. Kini, masakannya memiliki beragam menu yang bisa dipilih, seperti tongseng, sate, dan rica-rica.

Berdasarkan data Federasi Bebas Daging Anjing Indonesia (DMFI) pada Januari 2019, Solo kini memiliki 82 warung. Dalam sebulan, 13.700 anjing dikonsumsi, atau hampir 500 anjing per hari.

Jumlah ini memang banyak, apalagi ditambah dari daerah sekitar Kota Solo yang juga terdapat warung Guguk. Sebagian besar anjing ini mengumpulkan uang dari beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Timur.